Sunday, September 11, 2016

Commemorating Halloween in Indonesia is Improper.




            Recently, in every 31th October, many people in the big cities in Indonesia such as Jakarta, Bandung, and Surabaya celebrate Halloween. Some malls, hotels, and schools commemorate it with making costume party, watching horror movies, playing scary games and so on. As stated in Wikipedia, Halloween is acculturation between the harvest festival in west Europe and the dead festival from pagan tradition, especially sambain celfic people from Ireland. In Ireland, people leave before the night to gather food for sambain’s party and sometimes they wear costume when do it. Then, Christian adopts some pagan’s heritage with keep convincing that in the night, dead people are walking among them and witches fly around them. Unlike in America, in Indonesia people commemorates in different way. They just wear costume and having fun with it. Indonesia should not commemorate Halloween because it is not suitable with Indonesian culture it just waste time and money, Halloween is the pagan’s celebration.
            Halloween’s celebration is not suitable with Indonesian culture because it comes from west culture and Indonesia applies it just for show off and having fun. In addition to, there are many Indonesian cultures that need to be paid attention and some of cultures may be endangered if there is no one cares about it for example megengan, grebek maulud, selapan and so on. Besides Halloween, Indonesian cultures and traditions are more important to be concerned.
            Another reason why Indonesia should not celebrate Halloween is Halloween’s celebration just waste time and money. First, setting the monster costume and spooky make up needs much cost and spends much time. For instance the costume, there are only very few stores selling costume apparels even there is no store selling certain costumes like Nyi Blorong costume, Wewe gombel, Jenglot, etc. Also make up, usually it takes long time to make scary finery and needs much money to make it like making peeled skin, clawed wound, and burned face effects. However, the purpose of doing those things is just having fun with others and that means meaningless.     
            Moreover, Halloween is the Pagan’s celebration. Pagans are group of people who like praise thing like statue and they do not believe in God. According to history, Pagans are heathens and their existence are despised and hated by the big religions like Islam, Christian, and Jews. Therefore, celebrating Halloween means continue Pagan’s tradition which is forbidden by religion.
            However, there are many people who still celebrate Halloween in Indonesia even though they already have known that Halloween is not from Indonesia. They also have known that Halloween just waste time and money. But, they do not know what origin of Halloween is. They celebrate Halloween just for having fun with others. Indonesia should not celebrates Halloween in view of the purpose and origin.


Wednesday, September 7, 2016

Keterasingan di lingkungan pekerja industri



            Enam hari dalam seminggu dan delapan jam sehari adalah jam kerja pekerja industri/buruh. Selama itu para buruh bekerja tanpa henti, dengan peraturan yang ketat, upah yang rendah, ketiadaan jaminan kesehatan, tak boleh mengobrol dengan buruh lain meskipun diberikan waktu istirahat tetapi mereka gunakan untuk makan dan jika ada waktu lebih mereka gunakan untuk beristirahat menyimpan sisa tenaga mereka daripada untuk mengobrol, dan waktu pulang kerja pun mereka tak bisa bersosialisasi dengan yang lain karena terlalu capek bekerja seharian waktu yang tersisapun digunakan untuk beristirahat menyimpan tenaga untuk bekerja keesokan harinya agar badan tidak terlalu capek dan tidak bangun kesiangan karena jika terlambat gaji akan dipotong dengan nominal yang sangat besar. Itulah potret pekerjaan kaum buruh tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia. Sejak masa Revolusi Industri sampai sekarang keadaan para buruh diibaratkan seperti di atas bahkan ada yang lebih parah dengan memperkerjakan anak-anak. Para penyair di Eropa juga mengkritisi hal ini lewat karya Elizabeth Bareth dalam sajaknya “The Cry Of The Children”(1841) yang berisi protes terhadap diperkerjakannya anak-anak sebagai buruh.
            Sementara itu, Karl Max dalam bukunya Das kapital menyebutkan bahwa keadaan ini disebut alienasi. Alienasi adalah suatu keadaan dimana manusia dikuasai oleh kekuatan-kekuatan yang tercipta oleh kreasinya sendiri, yang merupakan kekuatan yang melawan manusia itu sendiri. Alienasi dalam bidang kerja mempunyai empat aspek yaitu:
1.      Manusia mengalami alienasi dari objek yang diproduksinya.
2.      Manusia mengalami alienasi dari proses produksi.
3.      Manusia teralienasi dari potensi dirinya sendiri.
4.      Manusia teralienasi dari lingkungan sekitar dan masyarakat.
Dalam aktivitas industri, seorang buruh terasing dari barang produksinya sendiri mungkin saja ia telah menghasilkan ribuan barang produksi tersebut selama bertahun-tahun akan tetapi tidak mengenal barang tersebut bahkan tidak memiliki hak atas barang tersebut. Demikian halnya dengan proses produksi, ia terfokus akan beban kerja yang tinggi dan efisiensi yang diberikan oleh perusahaan demi mendatangkan keuntungan yang banyak untuk perusahaan sehingga tak jarang seorang buruh hanya peduli pada proses produksinya sendiri, taka da waktu untuk berkomunikasi dengan yang lain karena akan menghambat produktifitasnya. Disamping itu, para buruh juga terasing dari potensi diri sendiri. Dia tidak bisa mengembangkan berbagai potensi yang ada dalam dirinya meskipun dia memiliki berbagai potensi dalam dirinya. Terakhir, seorang buruh teralienasi dari lingkungan sekitar dan masyarakat. Pekerjaan di pabrik sangat menguras waktu dan tenaga terutama jika mendapat lembur, oleh karena itu ketika waktu pulang kerja akan mereka gunakan untuk beristirahat sehingga tidak ada waktu untuk bersosialisasi dengan masyarakat dan bahkan tak peduli dengan lingkungan sekitar. Kerja, bagi si pekerja itu sendiri adalah sesuatu yang bersifat eksternal. Dia tidak menemukan kepribadiannya dalam bekerja justru mengingkarinya oleh sebab itu seorang buruh selalu tidak betah di tempat kerja, selalu melihat waktu kapan ini berakhir, selalu senang saat waktu tenggang. Di tempat kerjanya, seorang buruh tidak merdeka melainkan alat milik orang lain karena perusahaan sudah memberikan upah.
            Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hubungan buruh dengan aktivitasnya sendiri adalah sesuatu yang berlawanan. Sebagai sesuatu yang berlawanan dan bukan atas keinginannya sendiri ia merasakannya sebagai suatu penderitaan. Sesungguhnya apabila hubungan seseorang dengan kerjanya, hasil kerjanya dan dirinya sendiri baik maka hubungannya dengan orang lain dan dirinya sendiri akan baik pula. 

Sumber: Hotman M. Siahaan. 1986. Pengantar ke arah sejarah dan teori sosiologi. Jakarta. Erlangga. 

Saturday, September 3, 2016

Persiapan menghadapi raksasa ecommerce Amazon di Indonesia


Raksasa ecommerce dunia Amazon dikabarkan akan melebarkan sayapnya di Indonesia. Kabar seperti itu dikatakan oleh Ketua Umum Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA), Daniel Tumiwa.
“Amazon sudah mengumumkan akan membuka e-commerce di Indonesia. Dia akan menghabiskan investasi sebesar 600 juta dollar AS (sekitar 8 triliun) untuk tahun pertamanya di sini (Indonesia)”, kata Daniel seperti dikutip KompasTekno dari Kontan.
 Hanya saja, Daniel mengatakan, belum diketahui kapan persisnya Amazon akan mulai beroperasi di Tanah Air. Sementara itu, pihak Amazon masih diam tentang rencananya berekspansi bisnis di Indonesia. Amazon selama ini memiliki pola yang sama saat hadir di suatu negara. Satu tahun pertamanya dipakai untuk menguji pasar di negara itu. Setelah satu tahun, barulah Amazon memutuskan apakah mereka tetap di sana atau hengkang.
Di beberapa Negara, Amazon dengan mudah berada di posisi puncak dalam waktu setahun.”Contohnya saja di India, situs Flipkart yang semula jadi leader, marketnya langsung hilang 50 persen dalam waktu setahun”jelas Daniel.
Walau sukses merajai e-commerce India, tapi Amazon tidak berhasil masuk ke pasar China yang sudah dikuasai Alibaba. “Setelah di China,mereka keluar,” ujarnya.
            Selama ini jika seseorang di Indonesia memesan produk dari Amazon, dia akan dikenakan ongkos transportasi dan pajak yang sangat besar dikarenakan produk tersebut dikirim langsung dari Amerika dan harus menunggu beberapa hari agar produk sampai, akan tetapi bila Amazon beroperasi di Indonesia otomatis hal itu akan hilang sehingga pembeli tidak perlu khawatir tentang ongkos pengiriman. Disamping itu dari segi ulasan produk, amazon sangat detail menjelaskan produknya secara rinci melalui program afiliasi mereka. Ada banyak bloger di luar sana yang mendedikasikan situsnya hanya untuk menjualkan produk dari Amazon dengan penjelasan yang detail dan rinci dan mendapatkan ribuan dolar dari Amazon atas hasil kerja keras mereka contoh canvasli.com, kitchenfaucetdivas.com dan hal seperti ini belum ada untuk e-commerce Indonesia (mungkin karena e-commerce local tidak berani membayar mahal seperti Amazon). Amazon sampai saat ini selalu mendapat posisi puncak di mata bloger dan bukan tidak mungkin jika Amazon beroperasi di Indonesia, akan banyak afiliator dari tanah air yang mengulas produk Amazon berbahasa Indonesia.    
Persaingan untuk memperebutkan pasar Indonesia juga semakin seru dengan masuknya raksasa e-commerce asal China Alibaba dengan mengakuisisi saham Lazada.
Lalu jika Amazon dan Lazada sudah memulai beroperasi di Indonesia apakah ada kesempatan bagi e-commerce local untuk bisa bersaing dan tetap mendapatkan market? Tentu saja ada beberapa cara yang bisa dicoba oleh e-commerce lokal seperti yang akan dijelaskan berikut ini.
1. Melakukan Akuisisi
Amazon dan Lazada diibaratkan seperti dua serigala yang berusaha masuk ke hutan Indonesia untuk mencari mangsa. Untuk bisa bersaing dengan dua perusahaan tersebut e-commerce lokal harus melakukan akuisisi untuk mendapatkan dana yang lebih besar dalam mengembangkan usaha mereka agar bisa bersaing.
2. Belajar dari China
Belajar dari pengalaman China yang waktu itu sukses menyingkirkan e-commerce raksasa AS Ebay melalui Alibaba, padahal waktu itu Alibaba hanyalah perusahaan kecil yang tidak ada bandingannya dengan Ebay. Founder Alibaba, Jack Ma sangat tekun untuk dapat mendapatkan hati rakyat China dengan menerapkan layanan gratis untuk membernya, menargetkan potensial di industri khusus dan lokasi geografis, dan mengadakan event offline untuk pengguna yang telah terdaftar. Jack sudah tahu keinginan masyarakat dan kultur budaya di negerinya maka dari itu dia bisa sukses. Seperti halnya di Indonesia, e-commerce lokal juga harus mengetahui keinginan dan kultur budaya Indonesia. Mereka mungkin punya teknologi yang lebih canggih dan modal yang lebih besar akan tetapi mereka tidak tahu keadaan Indonesia sebaik e-commerce lokal. Salah satu e-commerce yang mulai menerapkan strategi ini adalah Blibi.com dengan peluncuran galeri Indonesianya yang menargetkan potensi industri khusus.
3. Memaksimalkan Pelayanan
E-commerce lokal harus meningkatkan pelayanan mereka dengan menghadirkan fitur baru seperti pesan teks langsung antara penjual maupun pembeli, meningkatkan keamanan dan kenyamanan pembayaran dan kesesuaian tampilan gambar dengan barang dalam rangka meningkatkan kepuasan pelanggan.
            Tiga saran diatas diharapkan mampu untuk menghadapi dan bersaing dengan dua perusahaan raksasa seperti Amazon dan Lazada. Penulis hanya dapat memberikan sedikit saran karena keterbatasan pemahaman tentang marketing, ekonomi, dan riset pasar
Sumber: Kompasteknno.com
http://netpreneur.co.id/bagaimana-perusahaan-alibaba-com-mengalahkan-raksasa-ebay-di-cina/#.VFnSycV_vhA